Minggu, 29 Juni 2014

Jika Saya Menemui Anak Berbakat (Gifted Child) di Kelas Saya


Anak berbakat (gifted child) merupakan anak yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Anak ini memiliki IQ di atas 120. Adapun karakteristik yang dapat dilihat dari anak berbakat antara lain proses belajarnya cepat dan rasa ingin tahunya yang tinggi, lebih terlihat menarik, tampil lebih dewasa serta mudah bergaul dengan teman sebaya maupun yang lebih dewasa. Terkadang seorang guru sekolah umum (bukan inklusi, bukan pula SLB) menemui satu anak seperti ini di kelasnya. Lalu apa langkah terbaik untuk menanganai anak tersebut?
Jika saya menjadi guru dari si anak berbakat, langkah pertama yang saya lakukan adalah membaca. Saya akan membaca beberapa sumber mengenai anak berbakat. Seperti dalam buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus karya dari ibu Sri Sami Asih, di buku tersebut diungkapkan bahwa layanan pendidikan berbakat di SD dilakukan dengan dua cara yakni melauli tahap penyaringan dan tahap seleksi. Pada tahap penyaringan, guru menganalisis hasil belajar anak dan observasi komitmen anak akan tugasnya. Lalu pada tahap seleksi, guru bekerjasama dengan psikolog dan konselor untuk menentukan IQ dan bakat anak. Tindakan selanjutnya adalah menentukan layanan penddidikan yang cocok bagi si anak berbakat. Layanan tersebut berupa layanan akselerasi, layanan kelas khusus, layanan kelas unggulan, serta pelayanan bimbingan sosial dan kepribadian.
Sementara menurut Natdin dalam blognya mengungkapkan bahwa setelah dilaksanakan identifikasi, guru menganalisis hasilnya dan kemudian memberikan metode-metode khusus kepada anak berbakat. Metode tersebut antara memberikan kesempatan luas kepada anak berbakat untuk mengerjakan aktivitas tertentu sesuai dengan kemampuannya, memberi kesempatan maju dengan cepat untuk mempelajarai unit-unit yang lebih tinggi, mempraktekan tingkat proses berpikir yang lebih tinggi, berbicara dengan naeasumber, memiliki mentor, mengelompokkan anak yang mempunyai tingkat kecerdasan yang sama di dalam sebuah kelas, hingga mempercepat masa studi sesuai dengan kemampuan anak berbakat tersebut dalam waktu lebih pendek dari seharusnya.
Berdasarkan kedua sumber yang saya sebutkan tadi, maka yang pertama saya lakukan adalah identifikasi dengan bantuan para ahli dan orang-orang yang bersangkutan dengan kehidupan si anak (orang tua). Identifikasi yang dilakukan menggunakan asesmen. Dari hasi identifikasi baru saya memberikan layanan. Layanan yang diberikan tergantung dari kemampuan anak dan kemampuan sekolah. Kemampuan anak berarti tingkat kemampuan anak berbakat tersebut berdasarkan hasil identifikasi. Sementara kemampuan sekolah berarti kemampuan sekolah dalam memberikan layanan. Perlu diketahui bahwa tidak semua sekolah mampu memberikan layanan yang sesuai bagi anak berbakat. Maka dari itu, saya sebagai guru harus memberikan yang terbaik untuk anak berbakat tersebut.
Yang harus saya lakukan jika layanan-layanan yang saya ungkapkan tidak dapat diberikan kepada si anak berbakat, yaitu:
1.   Tetap menganggap anak berbakat tersebut sebagai seorang anak. Meskipun dia memiliki kemampuan yang hampir setara orang dewasa. Karena pada hakikatnya, dia adalah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang yang sama dengan anak pada umumnya.
2.   Jangan pernah membandingkan anak berbakat dengan siswa lain di kelasnya. Jika sampai guru terlalu mengunggulkan anak berbakat tersebut, maka si anak dapat bersikap sombong dan manja. Yang lebih parah adalah si anak berbakattidak mau bergaul dengan teman-temannya.
3.      Sempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaannya
Cara yang efektif menghadapi anak yang banyak pertanyaan adalah dengan memberikan jawaban selengkap mungin dan secara jujur. Jika kita tidak bisa menjawab saat itu juga katakan kepada anak bahwa kita belum bisa menjawab, jawaban terlalu sulit untuk dijelaskan, atau dengan berkata akan ditanyakan kepada orang yang lebih tahu dan mahir dalam bidangnya.
4.   Berikan porsi belajar yang lebih tinggi kepada anak berbakat. Karena kemampuan belajar yang melebih anak seusianya.
5. Berikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitas mereka. Namun tetap memberikan pengawasan agar anak tidak melakukan hal-hal yang dilarang.
6.   Bekerjasama dengan para ahli. Dalam hal ini, guru perlu bekerjasama untuk menentukan langkah terbaik bagi si anak berbakat.
Dengan memberikan perlakuan-perlakuan tersebut, harapannya kemampuan dari si anak berbakat tetap berkembang optimal. Karena Anak Berbakat merupakan murid yang akan menjadi tanggung jawab seorang guru untuk mengoptimalkan kemampuannya. Semangat Mendidik! Semangat Berkarya! J

Sumber:
Asih, Sri Sami. 2011. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Semarang: UNNES.
Enc, Puji. 2013. Mengembangkan Kemampuan Anak Berbakat. http://pujienc.blogspot.com/2013/11/mengembangkan-kemampuan-anak-berbakat.html. Diakses pada 22-06-2014.
Natdin. 2010. Anak Berbakat. http://natdin.wordpress.com/2010/07/05/anak-berbakat/. Diakses pada 22-06-2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar