Anak berbakat (gifted child)
merupakan anak yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Anak ini memiliki IQ di atas 120.
Adapun karakteristik yang dapat dilihat dari anak berbakat antara lain proses
belajarnya cepat dan rasa ingin tahunya yang tinggi, lebih terlihat menarik,
tampil lebih dewasa serta mudah bergaul dengan teman sebaya maupun yang lebih
dewasa. Terkadang seorang guru sekolah umum (bukan inklusi, bukan pula SLB)
menemui satu anak seperti ini di kelasnya. Lalu apa langkah terbaik untuk
menanganai anak tersebut?
Jika saya
menjadi guru dari si anak berbakat, langkah pertama yang saya lakukan adalah
membaca. Saya akan membaca beberapa sumber mengenai anak berbakat. Seperti
dalam buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus karya dari ibu Sri Sami Asih, di
buku tersebut diungkapkan bahwa layanan pendidikan berbakat di SD dilakukan
dengan dua cara yakni melauli tahap penyaringan dan tahap seleksi. Pada tahap
penyaringan, guru menganalisis hasil belajar anak dan observasi komitmen anak
akan tugasnya. Lalu pada tahap seleksi, guru bekerjasama dengan psikolog dan
konselor untuk menentukan IQ dan bakat anak. Tindakan selanjutnya adalah
menentukan layanan penddidikan yang cocok bagi si anak berbakat. Layanan tersebut
berupa layanan akselerasi, layanan kelas khusus, layanan kelas unggulan, serta
pelayanan bimbingan sosial dan kepribadian.
Sementara
menurut Natdin dalam blognya mengungkapkan bahwa setelah dilaksanakan
identifikasi, guru menganalisis hasilnya dan kemudian memberikan metode-metode
khusus kepada anak berbakat. Metode tersebut antara memberikan kesempatan luas kepada
anak berbakat untuk mengerjakan aktivitas tertentu sesuai dengan kemampuannya,
memberi kesempatan maju dengan cepat untuk mempelajarai unit-unit yang lebih
tinggi, mempraktekan tingkat proses berpikir yang lebih tinggi, berbicara
dengan naeasumber, memiliki mentor, mengelompokkan anak yang mempunyai tingkat
kecerdasan yang sama di dalam sebuah kelas, hingga mempercepat masa studi
sesuai dengan kemampuan anak berbakat tersebut dalam waktu lebih pendek dari
seharusnya.
Berdasarkan
kedua sumber yang saya sebutkan tadi, maka yang pertama saya lakukan adalah
identifikasi dengan bantuan para ahli dan orang-orang yang bersangkutan dengan
kehidupan si anak (orang tua). Identifikasi yang dilakukan menggunakan asesmen.
Dari hasi identifikasi baru saya memberikan layanan. Layanan yang diberikan
tergantung dari kemampuan anak dan kemampuan sekolah. Kemampuan anak berarti
tingkat kemampuan anak berbakat tersebut berdasarkan hasil identifikasi.
Sementara kemampuan sekolah berarti kemampuan sekolah dalam memberikan layanan.
Perlu diketahui bahwa tidak semua sekolah mampu memberikan layanan yang sesuai
bagi anak berbakat. Maka dari itu, saya sebagai guru harus memberikan yang
terbaik untuk anak berbakat tersebut.
Yang harus saya
lakukan jika layanan-layanan yang saya ungkapkan tidak dapat diberikan kepada
si anak berbakat, yaitu:
1. Tetap menganggap
anak berbakat tersebut sebagai seorang anak. Meskipun dia memiliki kemampuan
yang hampir setara orang dewasa. Karena pada hakikatnya, dia adalah seorang anak
yang membutuhkan kasih sayang yang sama dengan anak pada umumnya.
2. Jangan pernah
membandingkan anak berbakat dengan siswa lain di kelasnya. Jika sampai guru
terlalu mengunggulkan anak berbakat tersebut, maka si anak dapat bersikap
sombong dan manja. Yang lebih parah adalah si anak berbakattidak mau bergaul
dengan teman-temannya.
3.
Sempatkan diri
untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaannya
Cara yang efektif menghadapi anak yang banyak
pertanyaan adalah dengan memberikan jawaban selengkap mungin dan secara jujur.
Jika kita tidak bisa menjawab saat itu juga katakan kepada anak bahwa kita
belum bisa menjawab, jawaban terlalu sulit untuk dijelaskan, atau dengan
berkata akan ditanyakan kepada orang yang lebih tahu dan mahir dalam bidangnya.
4. Berikan porsi
belajar yang lebih tinggi kepada anak berbakat. Karena kemampuan belajar yang
melebih anak seusianya.
5. Berikan
kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitas mereka. Namun tetap
memberikan pengawasan agar anak tidak melakukan hal-hal yang dilarang.
6. Bekerjasama dengan para ahli. Dalam hal ini, guru
perlu bekerjasama untuk menentukan langkah terbaik bagi si anak berbakat.
Dengan memberikan perlakuan-perlakuan tersebut,
harapannya kemampuan dari si anak berbakat tetap berkembang optimal. Karena
Anak Berbakat merupakan murid yang akan menjadi tanggung jawab seorang guru
untuk mengoptimalkan kemampuannya. Semangat Mendidik! Semangat Berkarya! J
Sumber:
Asih, Sri Sami. 2011. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Semarang: UNNES.